SARI SABDA MINGGU PRAPASKAH II (KEJ. 12:1-4A/2TIM. 1:8B-10/MAT. 17:1-9)
Happy
Ending adalah suatu ungkapan yang menyatakan bahwa akhir dari suatu cerita
atau kisah yang dipenuhi dengan sukacita, kegembiraan, kesenangan dan
kebahagiaan. Suasana seperti itulah yang ditunjukkan oleh Yesus kepada ketiga
murid-Nya di atas sebuah gunung. Yesus berubah dari yang biasa menjadi
luarbiasa (tidak seperti manusia sejamannya yang lain). Cerita yang berakhir
dengan suasana senang dan bahagia, pasti diawali oleh suatu perjuangan berat, air
mata bahkan perngorbanan. Inilah yang digambarkan dan diberi pesan tersirat oleh
penginjil tentang peristiwa naik ke atas gunung. Marilah kita memetik beberapa pelajaran
berharga sebagai berikut:
1. Yesus
naik ke gunung. Gunung itu terletak di ketinggian dan yang tinggi itu dipercaya
sebagai tempat bertemu dengan Tuhan, sejak perjanjian lama saat Musa naik ke
gunung, seluruh bani Israel percaya pasti ada percakapan antara Musa dengan
Tuhan. Yesus naik ke gunung memberi tanda kepada kita bahwa Ia hendak bertemu
dengan Allah Bapa-Nya dalam suasana yang nyaman, damai, tenang bahkan aman sentosa.
Situasi naik ke atas gunung ibarat berada di dalam surga: ada suasana doa,
hening, pakaian yang berubah menjadi putih berkilau, ada suara Bapa, ada awan
yang terang, ada para rasul yang bersujud, ada Musa dan Elia (nabi perjanjian
lama). Situasi inilah yang membuat Petrus ingin berlama-lama dengan usulannya
membangun kemah. Yesus yang naik ke gunung bersama para murid memberi
keterangan bahwa happy ending manusia ada berada di gunung atau di surga
itu sendiri.
2. Proses
naik ke gunung. Bila kita naik ke gunung atau sebuah bukit yang tinggi, pasti
kita mengalami proses jatuh-bangun. Ada kelelahan, kesusahan, godaan untuk
pulang, menyerah pada medan yang terjal dan sulit dan lain sebagainya. Inilah
salib kehidupan manusia yang harus dipikul setiap hari. Ingat ungkapan dukacita
mendahului kemenangan atau bersakit-sakit dahulu, bersenang-sengan kemudian.
Jadi salib adalah bagian dari identitas kita sebagai pengikut Kristus. Tak mungkin
kita mengalamai happy ending tanpa bad process. Dalam jalan salib
setiap jumat sore itu, kita merenungkan kesetiaan Yesus memikul salib dan
kemenangan-Nya saat bangkit mulia.
3. Bercerita
di atas gunung. Di atas gunung ada dua kelompok sharing. Pertama adalah Yesus,
Musa dan Elia. Kedua adalah Petrus, Yakobus dan Yohanes. Semua pribadi ini
adalah utusan-utusan Allah Bapa. Mereka bercerita tentang tugas perutusan,
misi, karya pelayanan suka-duka menjadi nabi, imam dan raja sambil saling
meneguhkan dalam suasana doa dan keheningan. Yesus bisa saja mau mengkonfirmasi
tentang tujuan dan perjalanannya untuk karya Allah yang penuh belas kasih itu.
Ia bercerita dengan tokoh pendoa seperti Elia yang saleh dan seorang pejuang
yang kuat tahan banting seperti Musa. Sementara itu ada kelopok para rasul yang
juga memiliki tempat dan peran. Merekalah yang mungkin saja akan menghakimi 12
suku israel pada akhir jaman nanti.
4. Turun
dari gunung. Yesus bersama ketiga murid-Nya memutuskan untuk turun dari gunung
namun ada syarat yaitu tidak boleh bersaksi tentang keadaan gunung (surga) tadi
sebelum anak manusia bangkit. Syarat ini masuk akal karena Yesus ingin mengajar
manusia supaya percaya kepadanya sebagai satu-satunya pengantara dan juru
selamat. Yesus adalah Mesias dalam arti asli bukan mesias dalam arti politis,
sosial atau bahkan ekonomi. Yesus tak mau dilihat sebagai nabi yang buat-buat
mukjizat (dukun-dukun) namun Allah yang mengajarkan keselamatan (kebangkitan)
melalui perjuangan hidup (salib).
Tuhan su memberkati!
.png)
.png)
.png)
Comments
Post a Comment